Monday, May 28, 2007
Simpati,
Solidaritas,
Charity
HUJAN menyiram Yogyakarta. Cuaca memang sedang tidak ramah sore itu meskipun langit cukup terang. Banyak orang menepi untuk berteduh. Pedesterian di sepanjang Malioboro menjadi penuh sesak. Turis, mahasiswa, pedagang, seniman jalanan, dan pengemis bergabung di emperan pertokoan jalan ternama itu. Mereka sabar menunggu air yang dicurahkan dari langit reda.
Belakangan ini pengalaman berada di Yogyakarta muncul kembali. Kala itu saya dan beberapa orang teman menjejakkan kaki di sana setelah melakukan perjalanan dengan bus dari Malang. Kami disambut hujan di Malioboro. Tapi pertemuan dengan orang-orang Yogya—aktivis pers mahasiswa dan Prof. Koesnadi Hardjasoemantri, rektor Universitas Gajah Mada masa itu— justru membuat suasana menjadi hangat. Mereka menyambut seakan-akan bertemu teman lama. Yogyakarta memang selalu menebarkan kehangatan, sekalipun di tengah guyuran hujan.
Kenangan itu nyaris buyar, tapi gempa yang meluluhlantakkan daerah-daerah sekitar Yogyakarta mengembalikannya lagi. Apalagi seorang kawan berpamitan untuk berangkat ke sana. Dia ingin menjadi relawan guna meringankan beban para korban bencana tersebut. Keramahan Yogyakarta pun terbayang kembali. Kota ini memang acap membekaskan kenangan di hati orang-orang yang pernah menyinggahinya.
Ebiet G. Ade, dalam lirik satu lagunya, mengakui Yogyakarta menyimpan jejak langkah dan desah nafasnya. Dia melantunkan lagu itu lagi ketika ber-telewicara dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X yang disapanya ngarso dalem. “Kami,” kata Ebiet menyebutkan para artis, seniman serta semua pekerja seni disekitarnya, “prihatin dan ingin berbuat dengan apa yang dapat kami lakukan untuk membantu saudara-saudara di sana.” Mereka bersimpati.
Kata orang bijak, “…even a sympathy can be a charity…” Simpati memang bisa menjadi amal yang meringankan beban ahli musibah. Dan simpati pasti semakin sempurna jika diekspresikan dengan perbuatan, termasuk “berbuat dengan apapun yang dapat dilakukan” sebagaimana dikemukakan Ebiet G. Ade. Para artis dan seniman itupun menggelar kegiatan amal. Mereka membangun simpati untuk menggalang solidaritas bagi Yogyakarta. Aneh, simpati sering membangkitkan tenaga untuk membantu sesama, bahkan kadang-kadang kita pun bisa lupa dengan keadaan sendiri.
Sejarah musibah kemanusiaan menjadi bukti. Misalnya saat tsunami menghantam Aceh, seorang relawan asal Bali terpaksa harus mengamputasi tangannya karena tercemar racun yang berasal dari mayat busuk. Lain waktu dr. Adi, seorang dokter muda di Yogyakarta, tak tahan melihat musibah itu, lalu memutuskan berangkat dengan biaya sendiri ke tengah-tengah korban bencana dahsyat di penghujung Desember dua tahun lalu. Namun kemudian dia terkatung-katung karena tidak punya ongkos untuk pulang. Atau lihat pengalaman Alfian Hamzah, seorang wartawan dari Jakarta, yang rela berjalan kaki berhari-hari untuk melaporkan keadaan di pedalaman Aceh yang meluluhlantakkan rasa kemanusiaan itu. Simpati membuat mereka tulus berkorban.
Begitu pula dengan teman yang berpamitan kepada saya untuk menjadi relawan di Yogyakarta itu. Dia bukanlah orang yang memiliki segalanya. Sebaliknya dia harus bekerja “berdarah-darah” untuk menyelesaikan kuliah dan menghidupi diri dan keluarganya. Namun dia memiliki simpati yang menjadi kekuatan yang mendorong-dorongnya segera berangkat ke Yogyakarta, bukan untuk menikmati keramahan—sebagaimana Yogyakarta di saat normal— melainkan demi menghapus duka dan melipur lara. Saya terkesima menerima salam pamitnya. Ada keharuan sekaligus perasaan bangga.
Selang sepekan, saya membaca berita di email: “Seorang relawan tewas saat evakuasi korban gempa.” Saya terperanjat. Siapa gerangan relawan itu? Mengapa simpati harus dibayar begitu mahal? Saya terus menduga-duga. Tapi tak lama. Saya lega, ternyata teman yang menjadi relawan itu masih sehat walafiat. Begitupun tetap saja peristiwa itu membangkitkan simpati, bahkan lebih besar lagi. Saya simpati terhadap para korban gempa sekaligus relawan-relawan di sana. Mereka tulus bersolidaritas bagi Yogya dan daerah sekitarnya. Teman saya dan para relawan itu sanggup melupakan ego masing-masing. Mereka tak surut walaupun menolong orang lain ternyata juga bisa membawa petaka bagi diri sendiri.
Homo homini socius, manusia adalah sahabat sesamanya. Musibah kemanusiaan seringkali membangkitkan rasa persahabatan itu kembali. Artis, pengusaha, seniman, relawan dan orang-orang lain yang bersolidaritas adalah sahabat-sahabat yang melipur lara, menghapus duka, dan mengajak orang-orang yang berbelasungkawa untuk merenda hari esok mulai hari ini. Solidaritas mereka akan membangunkan kembali Yogyakarta—seperti dulu— supaya di saat hujan pun tetap terasa keramahan dan kehangatannya.--nt
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment