
PERGILAH ke luar Tata Surya. Untuk apa? Bumi cuma satu, kata Stephen Hawking, ahli kosmologi dunia, jadi kita mesti menemukan planet lain untuk hidup. Bumi, menurutnya, sudah semakin berat mendukung kehidupan, maka manusia harus mempersiapkan diri untuk koloni antariksa. Bah...!
Dulu, ketika masih mahasiswa, saya memang merasakan bumi sudah semakin runyam, sebagaimana sinyal deklarasi One Earth di Stockholm sejak jauh-jauh hari lalu. Kawan-kawan dari non-government organization (NGO) sering menggelar diskusi maupun aksi bertema bumi dan lingkungan. Berbagai luka bola dunia ini terungkap, tentu saja plus cara mengobat dan merawatnya. Saya suka nimbrung dengan mereka. Tapi itu belum seberapa, soalnya ketika mulai menjadi reporter saya memiliki akses yang semakin terbuka dengan kondisi bumi. Saya rajin mengikuti diskusi, lalu melakukan observasi ke sungai, danau, laut, hutan, dan gunung untuk keperluan reporting. Ada rasa miris mendapati alam sedang dalam proses rusak, padahal siapapun pasti senang berada di tengah-tengahnya.
“Take it for granted,” kata seorang pakar dalam lokakarya lingkungan di Desa Mukomuko yang terletak di bibir Danau Maninjau, Sumatera Barat. Saya ada di sana bersama puluhan wartawan se-Sumatera. Quotation pakar itu menyindir para pembalak alam yang terus menggerogoti bumi seakan-akan apa yang mereka ambil pasti bakal tergantikan dengan sendirinya. Tidak pernah ada mekanisme tebang pilih, yang ada hanyalah gaya mengeksploitasi alam secara terus-menerus. Akibatnya, curah hujan terus berkurang, suhu bertambah panas, dan permukaan air di berbagai sungai dan danau terus menyusut. Permukaan air Danau Maninjau ketika itu pun tak mampu mengalirkan air ke sungai-sungai di hilirnya. Hanya batu-batu besar dan kerikil yang tersisa di dasar sungai-sungai di sana. Bagaimana dengan Danau Toba? Tidak jauh beda, sebab kondisi Danau Maninjau adalah cermin yang bagus untuk melihat persoalan danau-danau lain di berbagai tempat di muka bumi pertiwi saat itu. Buktinya—selain tak dapat mengairi sungai—Danau Maninjau dan Danau Toba pun sama-sama tak mampu mensuplai tenaga air untuk menggerakkan turbin penghasil listrik pada proyek-proyek skala besar di sekitarnya.
Fenomena itu memang terjadi beberapa tahun lalu, tapi hari-hari belakangan ini alam pun kembali mendera penghuni bumi dengan gejala yang tidak biasa. Misalnya, seisi kota tiba-tiba merasa gerah dan dahaga selama berhari-hari. “Lihatlah suhu sudah mencapai 41 derajat celcius,” kata Putra di Medan sambil melongok alat pencatat suhu yang terpasang tinggi di atas jalanan kota. “Ohh…pantas lah!” ungkapnya kemudian. Keesokan harinya foto yang merekam tingkat suhu udara itu terpampang di koran-koran. Banyak orang kaget, memang tidak sedikit pula yang meragukan akurasi alat tersebut. Tetapi setidaknya itu pertanda bahwa bumi memang sudah mulai penat. Saya membayangkan—melalui mitologi klasik Yunani Kuno—mungkin Atlas, sang titan yang perkasa, saat ini dalam posisi semakin terbungkuk rendah karena bola dunia yang dipanggulnya sudah memberat. Apabila lebih rendah lagi, bisa-bisa bumi menggelinding, melayang-layang di tata surya tanpa keseimbangan. Kalau ya, bukan tak mungkin bumi bakal sering terguncang, lalu gempa dan tsunami akan terus mendera kita.
Maka tak salah jika Stephen Hawking menganjurkan untuk melakukan koloni antariksa. Atlas mungkin memang mulai tak sanggup memanggul bola bumi yang semakin berat mendukung kehidupan di dalamnya. Selain Hawking, sesungguhnya film-film fiksi ilmiah—seperti Star Troopers, Red Planet, Star Wars hingga Ridick—secara berani sudah pula menggambarkan penjelajahan ke planet-planet di luar tata surya. Boleh jadi Einstein masa kini itu terinspirasi oleh film-film tersebut—iya atau tidak pun, tetap saja anjurannya merupakan alternatif untuk meringankan beban bumi yang semakin berat. Kelak, saat koloni antariksa itu memang mesti dilakukan, mungkin banyak orang segera menyesali prilaku take it for granted yang terlanjur mereka praktekkan.
Soalnya, bagaimanapun, bumi terlalu indah untuk ditinggalkan. Bumi adalah rumah bersama yang menyenangkan. Pasti banyak orang tak sanggup meninggalkannya untuk pindah ke planet lain. Kalau itu tetap terjadi semua penghuninya pasti menyesal karena tak mampu memberi apresiasi kepada bola dunia yang hijau kebiru-biruan ini. Sayangnya—seperti kata pameo—penyesalan seringkali mampir cuma untuk melipur lara, bukan untuk memutar waktu supaya orang tak melakukan kesalahan yang telah dibuat.—nt
No comments:
Post a Comment