Tuesday, May 22, 2007


No Free Press,
No Democracy

Don't walk behind me,
I may not lead
Don't walk in front of me,
I may not follow
Just walk beside me and be my friend




EGALITER, simpul saya merespon kalimat Albert Camus itu. Seandainya semua orang berpikir
demikian tentu dunia tampak lebih berwarna. Boleh jadi yang di depan tidak terus berlari kencang dan meninggikan diri, sedangkan yang di belakang pun tak sungkan mengiringinya. Ini akan membuat pemimpin tidak menjadi abai apalagi lupa diri. Saling mengiringi pasti indah, malah dapat membuat orang menjadi saling mengerti, bukan sebaliknya—saling menjauh.

No free press, no democracy, tulis para awak media di Bangkok, Thailand. Mereka menggoreskan kalimat penuh makna itu di atas spanduk yang diusung sepanjang jalan. Aksi ini merupakan bentuk protes kepada konglomerasi yang ingin membeli Bangkok Post dan satu koran lainnya. Koran berpengaruh ini dikenal kritis, apalagi terhadap pemerintah. Saat itu Perdana Menteri Thaksin Shinawatra mengelola negeri Gajah Putih dengan gaya “tak ingin didikte”—seolah-olah dia bisa memimpin tanpa sedikitpun cela. Thaksin kerap uring-uringan dibuat Bangkok Post, karena itu berniat mengbungkamnya dengan menggunakan tangan konglomerasi yang berada di bawah kendali kelompok usaha sahabat karibnya. Namun para awak media menolak, mereka tak sudi mengekor Thaksin dari belakang melainkan tetap ingin dalam poisisi di sampingnya.

Thaksin cuma segelintir contoh. Selain dia, tidak sedikit figur lain yang alergi dikte di berbagai negeri. Bahkan di negara demokrasi semacam Indonesia lumayan banyak orang gamang menerima dikte yang kritis.

“Wartawan itu ibarat tsunami,” kata seorang awak media di Perbaungan, Serdang Bedagai, dalam suatu pertemuan dengan saya. Kok begitu? Dia menceritakan pengalamannya saat berniat melakukan konfirmasi berita kepada pejabat. “Kita masuk dari pintu depan, pejabat itu keluar dari pintu belakang.” Mereka, menurutnya, masih alergi terhadap wartawan. Maunya pemberitaan media cuma untuk ‘mengangkat-angkat’ saja, tetapi ketika ada isu kritis yang hendak dikonfirmasikan mereka tak mau bertemu. Para pejabat itu menganggap pemberitaan yang mengkritik hanya akan memukul posisi mereka. “Itulah makanya pejabat di sini menganggap wartawan seperti tsunami, karena dapat ‘menghancurkan’ kedudukannya.”

Ah, saya teringat Samsudin Harahap, seorang wartawan di Pematangsiantar. Dia pernah ingin menelusuri kebenaran berita yang diperolehnya, lalu menunggu waktu konfirmasi dengan tekun. Tapi niat itu malah dibalas dengan memenjarakannya. Aneh—mungkin berita yang diperolehnya dianggap bakal mengusik status-quo.

Saya tercenung. Memang tidak jarang orang meletakkan media dalam posisi adversary. Sidney Jones, aktivis hak asasi manusia, pernah mengingatkan saya tentang itu. Waktu itu—ketika bertemu dengannya—saya tertarik dengan informasi dan pendapatnya mengenai penegakan hak asasi manusia serta demokrasi di Indonesia. Sidney mengungkapkan sikap Indonesia yang “setengah hati” dengan berani dan—sebagaimana biasa—kritis. Dia pun menunjuk contoh beberapa kasus di Nanggroe Aceh Darussalam. “I get the scoop,” teriak saya dalam hati kala itu.

Namun setelah pendapatnya keluar menjadi konsumsi publik, Sidney menegur saya. Mengapa? Sebenarnya, “tak mengapa,” kata Sidney via email, “tetapi lain kali mesti berhati-hati.” Saya berpikir lama mencerna nasehatnya. Ooh…saya maklum kemudian. Sidney tak ingin media dan sikap kritis yang diekspresikannya disangka sebagai bentuk adversary oleh penguasa, apalagi sekitar enam tahun lalu demokrasi terhitung masih prematur di negeri ini.

Sungguh, memang tak mudah meminta orang mempersilakan kita berjalan beriringan di sampingnya. Banyak orang tak siap melihat bayangan hitam dirinya sendiri. Bagi saya sendiri, aktivis semacam Sidney, komunitas media di Bangkok, Perbaungan, Pematangsiantar—atau dimana saja pun—sebenarnya adalah sisi-sisi yang ingin berjalan sambil saling mengingatkan dengan figur-figur yang terlanjur menganggap diri berada di posisi depan dan tinggi. Sayangnya figur-figur itu seringkali tidak sependapat dengan Albert Camus. Mereka bersikukuh untuk berjalan sendiri. Mereka bukan main pede, padahal kadang juga bukan main paranoid.

Syukurlah sosok-sosok yang sependapat dengan Camus juga tidak sedikit. Komunitas ini terus mengemuka. Mereka tahu untuk itu pasti ada konsekuensi atau risiko yang mungkin datang, tapi mereka tak surut: Let’s walk beside you and be your friend, not just your adversary.--nt

No comments: